Hujan membawa pelajaran

Hari itu hujan deras,dan yak saya lupa kalau bogor adalah kota hujan,dan saya juga lupa membawa sebuah benda yg sangat penting disaat hujan,benar benda itu bernama payung,hem.saya dari suatu tempat ingin balik ke asrma,saya menaiki sebuah angkot bewarna hijau (hampir semua angkot bewarna hijau sbnernya -,- )sebelum menaiki angkot itu saya bertanya  “pak laladon?”  Dan si bapak sopir menjawab I”ya neng”,dan naiklah saya.Tp apa yg terjadi,si bapak sopir belok ke suatu gang yang saya tidak tahu itu dimana,oke saya masih positif thingking mungkin jalan pintas,dan benar sekali itu memang jalan pintas tapi ke bubulak.saya menarik nafas panjaang,dan turun,hujan, saya turun seperti anak hilang,karna hujan tidak ada orang yang berkeliaran disekitar sana,dan saya bingung naik apa selanjutnya,semua mata tertuju pada saya,karna di tengah derasnya hujan saya malah mondar mandir mencari angkot yg bertulisan “kampus dalam” tiba-tiba datanglah seorang malaikat kecil dari langit yaitu ojek payung  dia bertanya “ mau kemana neng?”

Saya menjawab “mau ke kampus dalam dek “

, anak kecil itu menjawab “oh tunggu aja neng biasanya disni sih” sambil menunjuk ke suatu tempat.

“terimakasih ya dek ‘’ ucap saya.saya pun mulai menunggu, 5,10,15 menit tidak ada angkot yang berjudul kampus dalam,saya mulai sedikit panik.tiba2 ojek payung td muncul lagi,sambil berlari-lari ditengah hujan deras dia berkata “neng,naik ciampea aja,lewat kampus dalam” detik itu menit itu,saya terpana melihat ketulusan anak kecil itu,dia sangat peduli pada saya,yang notabene bukan siapa2nya.saya menjwab “makasih banyak ya dek” sambil tersenyum tulus,dia mengangguk,”lewat sini neng” sambil memayungi saya.saya sampai ke mobil bertulisan ciampea,dan mengucapkan terimakasih.saya duduk di pojok di kursi 4,di dalam mobil hanya ada 4 orang,di depan saya ada seorang gadis berbaju merah, disampingnya bapak berumuran 50 seblahnya laki-laki masih muda, saya baru saja duduk beberapa menit,tiba-tiba gadis merah depan saya teriak kecil dan tangannya kearah atas,kepalanya menghadap samping kanan saya kira ada serangga atau semacamnya,tapi lama kelamaan,tangganya kearah saya,dan dia kejang-kejang dan jatuh kelantai mobil,ya ampun saya reflek geser ke kiri menjauh dari sana,saat itu tubuh saya benar-benar gemetar,saya pikir dia kesurupan,tapi makin lama dia kejang dan mengeluarkan sedikit cairan dari mulutnya,lalu si bapak-bapak tua dengan santaimya bilang “gpp neng,biasa itu ayan neng,gpp biarin aja”saya tak sanggup melihat gadis itu kepalanya masuk ke kolong tempat duduk,kakinya terlipat dan dia kejang-kejang.saya disuruh pindah ke belakang sopir,dan orang-orang datang membantu gadis itu,mengangkatnya keluar,beberapa menit kemudian dia mulai sadar, ramai orang melihat dari jendela,saya masih terpaku,terpana,terdiam melihat kejadian itu.itu pertama kalinya saya melihat langsung kejadian seperti itu.tapi kejadian itu membuat saya sadar betapa harusnya kita bersyukur kita tidak dapat penyakit seperti itu,betapa banyak hal-hal kecil yang tidak kita sadari yang harusnya kita syukuri.saya sangat bersyukur dijauhkan dari penyakit seperti itu,bukan maksud apa-apa cuma hanya ingin mengingatkan kepada kita yang sehat kita harus bersyukur,jangan Cuma melihat apa yang kurang,jangan selalu meminta saja kepada tuhan,tapi coba untuk bersyukur.saya terdiam sampai tiba di depan tembok berlin,banyak pelajaran yang bisa saya ambil hari itu,anak kecil yang tulus,dan tentang bersyukur.

si Buyung dan ibunya

Lebaran kemaren ini saya dan keluarga selalu melakukan ritual yg sama dengan tahun2 lalu yaitu prgi ke kampung kecil saya,dan dalam perjalanan itu kami bertemu lagi dengan si buyuang,kami berhenti sejenak dan melihat si buyuang masih tetap sama seperti 3 tahun yang lalu saat kami pertama kali bertemu dengannya,dengan wajah yang selalu penuh senyum,tawa,dan bahagia,hanya satu yang berubah yaitu gerobaknya lebih kecil,dan ada tulisan di atap plastik gerobaknya : “hati-hati kami tuna netra” saya teringat bagaimana kami bertemu pertama kali,masih tetap sama saat itu dalam perjalanan ke kampung.
si buyung (baca : buyuang ) ditakdirkan buta,semenjak ayahnya meninggal si buyuang terpaksa harus hidup dalam kemiskinan bersama ibunya,dia dari kecil sudah ikut membantu ibunya membuat sapu lidi,sapu-sapu itu dijual diinggir jalan,sejalan dengan waktu sapu-sapu lidi terpaksa dijual dengan menjajakannya dari kampung ke kampung yang terletak sepanjang raya,ibunya terpaksa dibawa sebagai penunjuk jalan.Oleh karna suatu penyakit ibu menjadi lumpuh,sejak saat itu buyung menjual sapu-sapunya dengan menggantungya pada sebuah gerobak yang dirancang seprti rumah kecil dengan roda dua dibelakang,sementara si buyung menarik gerobak itu dengan kedua tangannya.Ibunya duduk didalam sebagai penunjuk jalan.begitulah mereka menjalani hari-harinya.
Buyung tidak mau tinggal dipondoknya yang hampir roboh itu dengan hanya mengharapkan belas kasih orang2.dia juga tidak mau meninggalkan ibunya yang lumpuh itu sendirian dirumah ketika pergi berjualan.semangat juang si buyung,kemandirian,dan optimismenya bisa menjadi inspirasi untuk kita semua bagaimana memandang hidup secara optimis dan mandiri walaupun dengan keterbatasan dan kekurangan yang dimiliki.seharusnya kita malu,kita kalah semangat daya juangnya dengan seorang yang mempunyai kekurangan sedangkan kita normal.

NB : kisah si buyung dan ibunya ini pernah diangkat di acara kickandy di metrotv.

Search
Archives